Dari observasi sederhana: SME Indonesia ketinggalan di AI race.
Right Team berdiri untuk mengisi celah itu — AI agent studio boutique yang paham konteks bisnis lokal, bicara bahasa founder, dan deliver dengan standar yang serius.
Cerita awal.
Sebelum Right Team, founder-nya (Bram) jalanin CV Right Team — agensi kreatif tradisional di Malang selama beberapa tahun. Banyak klien SME yang kami handle. Semua punya operational bottleneck yang sama: tim kewalahan handle task repetitive, founder exhausted micromanaging, scaling stuck karena setiap growth butuh hire baru.
Di titik itu AI mulai matang. Tools kayak Claude, Gemini, GPT bukan lagi toy — beneran bisa bekerja. Tapi ada masalah: vendor AI yang ada ngincer korporat dengan budget ratusan juta sampai miliaran. Freelance cocok untuk eksperimen kecil. Di tengahnya ada jutaan SME Indonesia yang underserved.
Right Team lahir untuk itu. Custom build, boutique service, long-term partnership. Fokus di scaling founder yang siap invest di infrastructure operasional — bukan eksperimen sambil lalu.
Mission kami.
Membuat AI agent tools benar-benar terjangkau dan impactful untuk bisnis lokal Indonesia — bukan technology-for-technology-sake, tapi yang solve operational reality sehari-hari.
Kami percaya pemilik bisnis di Indonesia berhak dapet kualitas delivery yang sama dengan klien di Silicon Valley. Bahasa boleh beda, scale boleh beda, tapi standar craftsmanship tidak kami turunkan.
Pendekatan — 3 pillar.
Ini janji yang kami taruh di kontrak kerja dan pertanggungjawabkan sepanjang engagement:
Strategy sebelum eksekusi
Discovery 1–2 minggu dulu, baru proposal. Kalau AI bukan solusi tepat, kami bilang langsung — bahkan kalau artinya nggak deal.
Custom build, bukan template
Setiap agent di-build dari nol sesuai konteks kamu. Bukan SaaS one-size-fits-all yang cocok ke nobody.
Partner jangka panjang
Deploy cuma awal. Running fee flat bulanan untuk iterasi, update tooling, jaga kompetitif terhadap AI landscape yang bergerak cepat.
Tim saat ini.
Bram — founder, strategist, dan primary contact untuk semua klien. Latar belakang: agensi kreatif tradisional, pivot ke AI agency karena melihat gap di market SME. Base di Malang, lokasi yang kami kerjain tersebar (saat ini Bali & Lombok).
Agent — Employee #0. AI executive assistant internal Right Team. Handle calendar, reminder, dan screening inquiry sejak hari pertama operasional. Built on OpenClaw + Claude Sonnet, self-hosted di Mac mini. Live 24/7.
Tim akan tumbuh seiring demand. Target Q3 2026: senior implementation engineer untuk partner di delivery. Kami sengaja keep tim ramping — fokus kami ke depth per klien, bukan breadth multi-klien paralel.
Kenapa kami dogfood AI.
Agensi AI yang nggak pakai AI di operasional sendiri itu red flag. Kami eat our own dogfood:
- Website ini di-manage oleh Claude Code — AI coding agent edit file, deploy otomatis.
- Calendar & reminder kami di-handle AI executive assistant internal.
- Internal workflow — research calon klien, draft proposal, screening inquiry — semua pakai AI agents.
- Infrastructure monitoring, cron job, log aggregation — AI-driven.
Kalau kami nggak berani pakai produk kami sendiri, buat apa klien trust kami pakai untuk mereka?
Kenapa nama "Right Team".
Nama ini dipilih sebelum AI jadi narasi utama — CV Right Team udah exist sebagai agensi kreatif. Saat pivot, kami sengaja nggak ganti nama. Alasannya simpel: "Right Team" bicara tentang value proposition yang lebih dalam dari sekedar AI.
Klien nggak butuh AI. Klien butuh tim yang tepat untuk masalah mereka. Kadang itu AI agent. Kadang itu manusia. Kadang kombinasi. Tagline kami — "Right Team. Right AI. Right Now" — menunjuk ke itu: solusi yang tepat, di waktu yang tepat, dengan stack yang tepat.
AI cuma alat. Yang constant adalah commitment untuk bring the right team (manusia + AI + tools) ke setiap engagement.
Mau ngobrol lebih jauh?
Sesi discovery 45 menit, gratis. Isi form, kami siapkan konteks sebelum ngobrol.
Isi form inquiry →